Friday, July 20, 2018

Macam Macam Etnografi dan pendekatannya


APA TIPE-TIPE RANCANGAN ENOGRAFIS?   
Dengan perkembangan seperti digambarkan di atas, pendekatan eklektif menjadi suatu ciri dari penelitian etnografis pendidikan saat ini. Bagi seorang peneliti yang baru terhadap etnografi, panjangnya daftar tidak menjadi penting ketimbang fokus terhadap bentuk-bentuk utama seperti yang dipublikasikan dalam laporan-laporan penelitian pendidikan. Tanpa diragukan lagi, penelitian etnografis tidak selamanya cocok (pas) untuk kategori-kategori, akan tetapi ada tiga bentuk yang jelas:
v  Etnografi Realis
v  Studi kasus
v  Etnografi Kritis

Etnografi Realis
Etnografi realis adalah sebuah pendekatan yang populer yang digunakan oleh para antropologi budaya. Dicirikan oleh Van Maanen (1988), ia mencerminkan sebuah pandangan tertentu yang diambil oleh si peneliti terhadap para individu yang sedang diteliti. Etnografi realis adalah sebuah kisah yang ditampilkan secara objektif dari suatu situasi, biasanya ditulis dari sudut padangan orang ketiga, yang melaporkan secara objektif informasi yang dipelajari dari para partisipan di situs (lapangan). Dalam rancangan etnografis ini:
v  Para etnografer realis menarasikan penelitiannya dalam suara orang ketiga yang tidak memihak dan melaporkan observasinya terhadap para partisipan serta pandangan mereka. Si etnografer tidak menawarkan refleksi-refleksi pribadi dalam laporan penelitiannya dan tetap berada di latar belakang sebagai pelapor “fakta” yang “omniscient” (yang serba tahu).
v  Si peneliti melaporkan data-data objektif dalam gaya yang terukur tanpa terkontaminasi oleh bias pribadi, tujuan-tujuan politis, dan pertimbangan. Si peneliti boleh memberikan detil keseharian dari orang-orang yang sedang diteliti. Si etnografer juga menggunakan kategri-kategori standar berkaitan dengan deskpripsi budaya (seperti kehidupan di lingkungan keluarga, kehidupan di lingkungan kerja, jejaring sosial, sistem status).
v  Para etnografer mengungkapkan pandangan-pandangan para partisipan melalui pengeditan secara ketat kutipan-kutipan dan memberikan kata-kata akhir berupa interpretasi dan penyajian budaya (Van Maanen, 1988).
Jenis etnografi seperti ini sudah lama menjadi tradisi dalam antropologi budaya dan pendidikan. Contoh, Wolcott (1974, 1994) menggunakan pendekatan realis terhadap etnografi untuk meneliti aktivitas-aktivitas sebuah komite yang ditunjuk untuk menyeleksi seorang kepala sekolah. Penelitian tersebut berkaitan dengan proses yang dialami oleh sebuah komite pemilihan sekolah ketika mereka mewawancarai para calon. Wolcott memulai dengan seorang calon sampai akhirnya individu terakhir diidentifikasi. Dengan mengikuti deskprisi proses wawancara ini, Wolcott memberikan interpretasi terhadap tindakan-tindakan komite dalam batas-batas kurangnya pengetahuan profesional, tingkah laku mereka yang tak kondusif, dan keengganan sekolah untuk beruah.
Sebagai seorang etnografer yang realis, Wolcott memberikan sebuah kisah tentang keputusan yang dibuat oleh komite seolah-olah ia sedang milihat ke dalam dari luar, melaporkan prosedur secara objektif, dan juga mencakup pandangan para partisipan. Interpretasi pada akhirnya menampilkan penyajian pandangan Wolcott tentang pola-pola yang dia lihat yang dilakukan oleh komite pemilihan kelompok budaya.

Studi Kasus
Para penulis sering menggunakan istilah studi kasus sehubungan dengan etnografi (misalnya lihat LeCmpte & Schensul, 1999).  Studi kasus merupakan sebuah tipe etnografi yang penting, walaupun ia sebenarnya berbeda dengan etnografi dalam beberapa hal penting. Para peneliti studi kasus boleh jadi memfouskan diri pada program, peristiwa, atau aktivitas yang melibatkan individu-individu ketimbang semata-mata kelompok (Stake, 1995). Juga, ketika para peneliti studi kasus meneliti sebuah kelompok, mereka boleh jadi lebih tertarik pada mendeskripsikan aktivitas-aktivitas kelompok ketimbang mengidentifikasi pola-pola bertingkah laku yang diperlihatkan oleh kelompok tersebut. Para etnografer berusaha menemukan pola-pola kebersamaan yang bekembang sebagai sebuah kelompok yang saling berinteraksi untuk jangka waktu tertentu. Akhirnya, para peneliti studi kasus akan cenderung kurang mengidentifikasi tema-tema budaya untuk dikaji pada awal dari sebuah penelitian, terutama dari sisi antropologi; sebaliknya, mereka akan terfokus pada eksplorasi mendalam tentang “kasus” aktual.
Walaupun beberapa orang peneliti mngidentifikasi “kasus” sebagai sebuah objek kajian (Stake, 1995), yang lainnya menganggap ini sebagai prosedur inkuiri (seperti Merriam, 1998). Studi kasus adalah sebuah eksplorasi mendalam tentang bounded system (suatu sistem tertutup) seperti aktivitas, peristiwa, proses, atau individu berbasis pengumpulan data yang ekstensif (Creswell, 2007). Bounded (tertutup) bermakna bahwa kasus itu terpisah (berdiri sendiri) untuk diteliti dalam hal waktu, tempat, atau batas-batas fisik tertentu.
Penting kiranya diingat bahwa tipe-tipe kasus yang sering diteliti oleh para peneliti kualitatif adalah:
v  “Kasusnya” bisa jadi seseorang individu, beberapa orang individu secara terpisah atau dalam sebuah kelompok;
v  “Kasusnya” boleh jadi merupakan repsentasi sebuah proses yang terdiri dari serentetan langkah (seperti proses pengembangan kurikulum perguruan tinggi) yang terdiri dari serentetan aktivitas;
v  Seperti diperlihatkan pada Diagram 15.1, sebuah kasus boleh jadi dipilih untuk diteliti karena kasus tersebut luar biasa dan memiliki manfaat di dalam dan untuk dirinya sendiri. Apabila kasus itu sendiri diminati, kasus tersebut disebut intrinsic case (kasus intrinsik). Penelitian tentang sekolah bilingual (dwibahasa) mengilustrasikan bentuk studi kasus seperti ini (Stake, 2000). Alternatif lain adalah fokusnya diberikan pada isu spesifik, dengan sebuah atau lebih kasus yang digunakan untuk mengilustrasikan sebuah isu. Tipe kasus seperti ini disebut instrumental case (kasus instrumental), karena kasus tersebut diarahkan untuk memenuhi tujuan untuk mengiluminasikan isu tertentu. Studi kasus “gunman incident  (Asmussen & Creswell, 1995) menggambarkan sebuah kasus instrumental dari sebuah kampus dalam rangka memperlihatkan reaksi kampus terhadap tindakan kekerasan di kampus. Studi-studi kasus boleh jadi juga mencakup kasus-kasus jamak, yang disebut collective  case studies (Stake, 1995), di mana kasus-kasus jamak dideskripsikan dan dibandingkan dalam rangka memberikan pemahaman terhadap sesuatu isu. Seorang peneliti studi kasus boleh jadi meneliti beberapa sekolah guna mengilustrasikan pendekatan-pendekatan alternatif terhadap pilihan sekolah bagi para siswa.
v  Para peneliti berupaya mengembangkan sebuah pemahaman mendalam tentang kasus dengan jalan mengumpulkan bermacam ragam bentuk data (seperti gambar, klipingan, videotape, dan e-mail). Memberikan pemahaman yang  mendalam memerlukan hanya beberapa kasus saja yang diteliti, karena untuk setiap kasus yang diteliti, si peneliti akan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menelusuri secara mendalam setiap kasus tersebut.
v  Si peneliti juga menempatkan “kasus” atau “kasus-kasus” itu di dalam konteks yang lebih luas, seperti seting-seting geografis, politik, sosial, atau ekonomi (seperti konstelasi keluarga yang terdiri dari kakek nenek, saudara kandung, dan anggota-anggota keluarga yang “diadopsi”).
Sebuah contoh dari studi kasus adalah penelitian oleh Kos (1991) tentang empat orang siswa sekolah menengah yang memiliki ketidakmampuan membaca. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kesulitan membaca pada para remaja. Peneliti memberikan tutorial kepada keempat siswa tersebut, mengamati kegiatan membacanya sendiri dan kegiatan membacanya di kelas, melakukan wawancara, dan mengumpulkan catatan-catatan sekolah untuk masing-masing siswa dimaksud. Keempat anak tersebut, yang umurnya berada antara 13 dan 15 tahun, tidak bisa membaca bahan-bahan bacaan lebih tiggi dari bahan-bahan bacaan untuk anak-anak kelas 3. Setelah mendeskripsikan masing-masing anak, peneliti mengidentifikasi empat tema yang mencuat tentang maing-masing anak tersebut: tingkah lau membaca, pengalaman-pengalaman negatif dan mengesalkan (frustrated), rasa khawatir (anxiety) terhadap bacaan, dan riwayat membacanya di taman kanak-kanak dan kelas satu. Dari analisis tentang kasus-kasus individual ini, peneliti kemudian membandingkan keempat anak tersebut dan menemukan bahwa keempat siswa tersebut menyadari kelemahan-kelemahan (kekurangan-kekurangan) mereka, memperlihatkan koneksi antara ketidakmampuan membaca dan stress (tekanan), dan ketidakmampuan mengintegrasikan berbagai ragam strategi membaca.
Studi kasus ini memperlihatan sebuah penelitian berkenaan dengan empat buah bounded system (sistem terpisah) – individu-individunya spesifik—dan penilaian terhadap pola-pola tingah laku masing-masing individu dan keempat mereka. Si peneliti memfokuskan diri pada isu tentang ketidakmampuan membaca dan melakukan pengkajian mendalam tentang keempat kasus ini dalam rangka mengilustrasikan isu tentang ketidakmampuan membaca ini. Berbagai bentuk data dikumpulkan, dan analisisnya terdiri dari pengembangan deskripsi dan tema-tema.
Contoh lain adalah studi kasus oleh Padula dan Miller (1999) tentang empat orang wanita yang kembali kuliah sebagai mahasiswa program doktor. Dalam studi kasus ini, para peneliti mengajukan pertanyaan tentang keputusan mereka untuk kembali ke bangku kuliah, bagaimana mereka mendeskripsikan pengalama-pengalaman mereka berkuliah, dan bagaimana pengalaman-pengalaman mereka selama mengikuti program pasca sarjana tersebut mengubah kehidupan mereka. Melalui wawancara dan observasi terhadap para wanita ini, para peneliti menemukan beberapa tema yang mencuat tentang keyakinan-keyakinan yang mereka pegang. Contoh, para wanita tersebut meyakini bahwa pengalaman-pengalaman di pasca sarjana tidak akan memenuhi kebutuhan mereka, mereka membandingkan diri mereka sendiri dengan mahasiswa-mahasiswa yang masih muda belia, dan mereka merasakan adanya kebutuhan umum untuk menyelesaikan perkuliahan mereka secepat mungkin.

Etnografi Kritis
Ketika Denzin (1997) berbicara tentang krisis kembar antara reprsentasi dan legitimasi, ia sebenarnya memberikan respon terhadap perubahan yang menyolok di dalam masyarakat, seperti masyarakat menjadi lebih multi-nasional, bergabung dengan perekonomian dunia, dan mengubah aspek-aspek demografis menjadi kelompok-kelompok yang lebih multi ras. Faktor-faktor ini telah mnciptakan sistem kekuasaan, prestise, keistimewaan, dan otoritas yang berperan memarjinalkan individu-individu dari berbagai kelas, ras, dan jender dalam masyarakat. Dengan berakar pada pemikiran Jerman tahun 1920-an, masalah historis yang ditimbulkan oleh dominasi, elienasi, dan perjuangan sosial sekarang memainkan peranan dalam penelitian pendidikan dan dan ilmu-ilmu sosial.
Bibliografi sekarang memadukan pendekatan “kritis” (Carspecken, 1995; Carspecken & Apple, 1992; Thomas, 1993) untuk menampung perspektif advokasi di dalam etnografi. Critical ethnographies (etnografi kritis) adalah sejenis penelitian etnografis di mana para peneliti tertarik pada pemberian advokasi dalam rangka emansipasi kelompok-kelompok yang terminalkan di dalam masyarakat (Thomas, 1993). Para peneliti kritis biasanya adalah individu-individu yang berpikiran politis yang mencoba mencari, melalui penelitian mereka, advokasi terhadap ketidaksederajatan dan dominasi (Carspecken & Apple, 1992). Contoh, para etnografer kritis boleh jadi meneliti sekolah-sekolah yang memberikan keistimewaan-keistimewaan kepada kelompok-kelompok siswa tertentu,  menciptakan situasi-situasi ketidaksederajatan diantara masing-masing anggota dari berbagai kelas sosial, dan memperbesar “suara” cowok dan para cewek menjadi partisipan yang bisu di daam kelas.
Komponen utama etonografi kritis disarikan dalam Diagram 15.2. Faktor-faktor ini, seperti orientasi bernilai sama (tanpa membedakan), pemberdayaan orang dengan jalan memberikan mereka lebih banyak otoritas, menantang status quo, dan perhatian terhadap kekuasaan dan kontrol, memainkan peranan dalam sebuah etnografi dalam karakterisk proseduralnya, seperti berikut:
v  Peneliti-peneliti etnografi kritis mengkaji isu-isu sosial terkait dengan kekuasaan, pemberdayaan, ketidaksederajatan, ketidakadilan, dominasi, represi (penindasan), hegemoni, dan victimization (membuat orang lain jadi korban);
v  Para peneliti melakukan penelitian etnogafi kritis untuk menjaga agar penelitian mereka itu tdak selanjutnya malah memarjinalkan individu-individu yang sedang diteliti. Dengan demikian, para peneliti berkerjasama, secara aktif berpartisipasi, bernegosiasi dengan para partisipan dalam menuliskan laporan akhir mereka, menggunakan kecermatan dan kehati-hatian dalam memasuki dan meninggalkan situs, dan secara timbal balik melakukan pengecekan terhadap para partisipan.
v   Etnografer kritis harus memiliki kesadaran diri tentag interpretasinya, mengetahui bahwa interpretasi-interpretasinya itu memberikan refleksi kesejarahan dan kebudayaan. Interpretasi hanya bisa tentatif dan mempertanyakan dan menjadi bahan  bagaimana para pembaca dan partisipan akan memandanganya.
v  Para peneliti kritis memposisikan diri mereka, di dalam teks, agar refleksif  dan sadar akan peranan mereka, dan berada di depan dalam menulis laporan penelitian mereka. Ini bermakna mereka harus mengidentifikasi adanya bias dan nilai; mengakui pandangan-pandangan orang lain, dan membedakan antara penyajian tetkstual oleh si peneliti, para partisipan,, dan para pembaca. Seorang etnografer bukan lagi seorang pengamat yang “objektf”, seperti pada pendekatan realis.
v  Posisi yang netral ini juga bermakna bahwa si etnografer akan merupakan advokat bagi perubahan guna membantu menstransformasikan masyarakat sehingga orang-orang menjadi merasa kurang tertekan dan termanijalkan.
v  Pada akhirnya, laporan enografi kritis akan menjadi sebuah pendekatan penelitian yang “messy, multimethod(berantakan; multi metoda), penuh dengan kontradiksi, faktor-faktor yang tidak dapat diperhitungkan, dan penuh ketegangan) (Denzin, 1997).
Penelitian etnografis kritis tentang sebuah sekolah dasar “inklusif”  (Keyes, Haney-Maxwell, & Capper, 1999) mengilustrasikan banyak diantara aspek ini. Tujuannya secara menyeluruh adalah untuk mendeskripsikan dan mendefenisikan peranan kepemimpinan adminsitratif pada sebuah sekolah inklusif dengan para siswa yang banyak mengalami peristiwa disablity classification (kegagalan mengklasifikasi), seperti kognitif, emosional, pembelajaran, berbicara, dana bahasa. Dengan tujuan untuk menghasilkan teori baru yang akan memberdayakan para individu di sekolah, para peneliti memulai dengan sebuah kerangka pemberdayaan kepemimpinan: pemberian dukungan, fasilitasi, dan peluang.
  Didasarkan pada kerja lapangan yang ekstenif yang terdiri dari membuntuti kepala sekolah (Marta), mengobservasi ruang-ruang kelas, melakukan wawancara secara individual dan wawancara kelompok terfokus, dan meganalisis pengumuman-pengumuman mingguan, para peneliti mengkompilasi sebuah gambaran tentang kepemiminan Maria yang mencakup sistem keyakinan sprititual pribadi. Spiritualitas Maria memungkinkannya menilai perjuangan pribadi, mendukung martabat para individu, memadukan masalah pribadi dan masalah profesi, meyakini bahwa bekerja keras, dan memberi penekanan pada pentingnya mendengarkan dan berkhayal. Pada akhirnya, Keyes et al., (1999) memberikan sebuah “visi keadilan yang ditopang oleh “keyakinan-keyakinan” spirtual (halaman 233) dan kmudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan konklusif ”Reformasi sekolah untuk apa?” dan “Pemberdayaan kepemimpinan untuk siapa” (halaman 234).
Sebagai sebuah kajian etnografis tentang sebuah sekolah yang menerapkan perspektif  kritis, proyek kegiatan ini memfokuskan diri pada isu pemberdayaan yang dirasakan oleh para siswa dan para guru yang termarjinalkan di sekolah.  Kepala sekolah secara aktif berupaya mencari partisipasi kolaboratif melalui dialog-dialog bersama dengan para guru dan para siswa. Para peneliti mengadvokasi demi wujudnya sebuah prubahan dan menggarisbawahi ketegangan yang memungkinankan terbukanya pertanyaan-pertanyaan baru ketimbang menutup pembicaraan. Walaupun pandangan para peneliti tidak dibuat secara eksplisit di dalam teks, perhatian dan minat mereka terhadap perubahan dan terhadap visi baru dalam kepemimpian sekolah bagi para individu dengan berbagai kegagagalan/ketidakmpuan seperti dinyatakan terdahlu jelas adanya.

No comments:

Post a Comment