Friday, September 23, 2016

materi mengenai konsep keberagaman budaya dan bahasa di masyarakat

II.    PERSAMAAN DAN PERBEDAAN BUDAYA
A.   KONSEP KEBERAGAMAN BUDAYA
1.      Definisi keberagaman budaya
Keberagaman berarti perihal beragam ragam; berjenis – jenis; perihal ragam; hal jenis. Keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan dalam berbagai bidang, terutama suku, ras, keyakinan, ideologi, adat kesopanan, serta situasi ekonomi. Sedang keberagaman budaya adalah keniscayaan yang ada di bumi.
Beberapa hal untuk memperkecil masalah akibat pengaruh negatif dari keberagaman, diantaranya :
a.       Semangat religius
b.      Semangat nasionalisme
c.       Semangat pliralisme
d.      Semangat humanisme
e.       Dialog antarumat beragama, dan
f.       Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antar agama, medai massa, dan harmonisasi dunia
2.      Faktor – faktor keberagaman budaya
Keberagaman budaya di Indonesia tidak terjadi begitu saja, terdapat banyak faktor faktor yang memengaruhinya. Dalam buku Sistem sosial Indonesia  diantaranya sebagai berikut:
a.       Keadaan/ geografis yang membagi wilayah Indonesia atas kurang lebih 3.000 pulau yang terserak di suatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3000 mil dari timur ke barat dan lebih dari 1.000 mil dari utara ke selatan
Keadaan geografis Indonesia yang demikian membuat penduduk yang menempati pulau di Nusantara tumbuh menjadi bangsa kesatuan yang lain. Tiap kesatuan suku bangsa terdiri dari sejumlah orang orang yang dipersatukan oleh ikatan ikatan yang emosiaonal serta memandang diri mereka sebagai suatu jenis tersendiri.
b.    Indonesia terletak di antara Samudra Indonesia dan Samudra Pasifik
Karena letaknya yang berada di tengah tengah lalu lintas perdagangan laut memlauli kedua samudera tersebut, oleh sebab itu masyarakat indonesia memperoleh berbagai pengaruh kebudayaan bangsa lain memlalui perdagangan asing,
c.       Iklim yang berbeda-beda dan struktur tanah yang tidak sama di antara berbagi daerah di kepulauan Nusantara.
          Perbedaan curah hujan dan kesuburan tanah ini menciptakan dua lingkungan ekologi yang berbeda di daerah Indonesia, yaitu daerah pertanian sawah yang banyak dijumpai dipulau jawa dan bali. Perbedaan lingkungan ekologis tersebut menyebabkan perbedaan yang kontras dalam bidang kependudukan, ekonomi, dan sosial.
3.      Kearifan lokal
Kearifan lokal, terdiri dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
Menurut Gobyah nilai terpentingnya adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional.
Dalam buku Warisan Seni Rupa Tradisi Kearifan lokal adalah perangkat pengetahuan serta praktek yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan atau kesulitan yang dihadapi dengan cara baik dan benar. Kearifan lokal memcakup berbagai pengetahuan, pandangan nilai serta praktik dari sebuah komunitas. Sehingga wujud kearifan lokal dalam kehidupan sehari hari bisa berupa pengetahuan dan praktik praktik yang berupa pola pola interaksi dan pola pola tindakan.
Menurut Antariksa (2009), kearifan lokal merupakan unsur bagian dari tradisi-budaya masyarakat suatu bangsa, yang muncul menjadi bagian-bagian yang ditempatkan pada tatanan fisik bangunan (arsitektur) dan kawasan (perkotaan) dalam geografi kenusantaraan sebuah bangsa. Dari penjelasan beliau dapat dilihat bahwa kearifan lokal merupakan langkah penerapan dari tradisi yang diterjemahkan dalam artefak fisik. Hal terpenting dari kearifan lokal adalah proses sebelum implementasi tradisi pada artefak fisik, yaitu nilai-nilai dari alam untuk mengajak dan mengajarkan tentang bagaimana ‘membaca’ potensi alam dan menuliskannya kembali sebagai tradisi yang diterima secara universal oleh masyarakat, khususnya dalam berarsitektur. Nilai tradisi untuk menselaraskan kehidupan manusia dengan cara menghargai, memelihara dan melestarikan alam lingkungan. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin adanya penyempurnaan arti dan saling mendukung, yang intinya adalah memahami bakat dan potensi alam tempatnya hidup; dan diwujudkannya sebagai tradisi.
Definisi kearifan lokal secara bebas dapat diartikan nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat. Hal ini berarti, untuk mengetahui suatu kearifan lokal di suatu wilayah maka kita harus bisa memahami nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam wilayah tersebut. Kalau mau jujur, sebenarnya nilai-nilai kearifan lokal ini sudah diajarkan secara turun temurun oleh orang tua kita kepada kita selaku anak-anaknya. Budaya gotong royong, saling menghormati dan tepa salira merupakan contoh kecil dari kearifan lokal.
Berdasarkan definisi-definisi di atas saya membuat definisi dengan pendapat saya sendiri. Menurut saya sendiri, kearifan lokal adalah sesuatu yang memiliki nilai-nilai budaya yang baik yang sebenarnya sudah diajarkan semenjak lama dari nenek moyang kita terdahulu.
Dari definisi-definisi itu, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam mensiasati lingkungan hidup sekitar mereka, menjadikan pengetahuan itu sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkan serta meneruskan itu dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan hukumsetempat.
      Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat hanya ketika masyarakat lokal yang mewarisi sistem pengetahuan itu mau menerima dan mengklaim hal itu sebagai bagian dari kehidupan mereka. Dengan cara itulah, kearifan lokal dapat disebut sebagai jiwa dari budaya lokal. Hal itu dapat dilihat dari ekspresi kearifan lokal dalam kehidupan setiap hari karena telah terinternalisasi dengan sangat baik. Tiap bagian dari kehidupan masyarakat lokal diarahkan secara arif berdasarkan sistem pengetahuan mereka, dimana tidak hanya bermanfaat dalam aktifitas keseharian dan interaksi dengan sesama saja, tetapi juga dalam situasi-situasi yang tidak terduga seperti bencana yang datang tiba-tiba.

       Berangkat dari semua itu, kearifan lokal adalah persoalan identitas. Sebagai sistem pengetahuan lokal, ia membedakan suatu masyarakat lokal dengan masyarakat lokal yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari tipe-tipe kearifan lokal yang dapat ditelusuri:
1.        Kearifan lokal dalam hubungan dengan makanan: khusus berhubungan dengan lingkungan setempat, dicocokkan dengan iklim dan bahan makanan pokok setempat. (Contoh: Sasi laut di Maluku dan beberapa tempat lain sebagai bagian dari kearifan lokal dengan tujuan agar sumber pangan masyarakat dapat tetap terjaga).
2.        Kearifan lokal dalam hubungan dengan pengobatan: untuk pencegahan dan pengobatan. (Contoh: Masing-masing daerah memiliki tanaman obat tradisional dengan khasiat yang berbeda-beda).
3.        Kearifan lokal dalam hubungan dengan sistem produksi: Tentu saja berkaitan dengan sistem produksi lokal yang tradisional, sebagai bagian upaya pemenuhan kebutuhan dan manajemen tenaga kerja. (Contoh: Subak di Bali; di Maluku ada Masohi untuk membuka lahan pertanian, dll.).
4.        Kearifan lokal dalam hubungan dengan perumahan: disesuaikan dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah tersebut (Contoh: Rumah orang Eskimo; Rumah yang terbuat dari gaba-gaba di Ambon, dll.).
5.        Kearifan lokal dalam hubungan dengan pakaian: disesuaikan dengan iklim dan bahan baku yang tersedia di wilayah itu.
6.        Kearifan lokal dalam hubungan sesama manusia: sistem pengetahuan lokal sebagai hasil interaksi terus menerus yang terbangun karena kebutuhan-kebutuhan di atas. (Contoh: Hubungan Pela di Maluku juga berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan pangan, perumahan, sistem produksi dan lain sebagainya).
B.   BAHASA DIMASYARAKAT                                              
     Bahasa merupakan alat komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat yang dihasilkan oleh alat ucap manusia,bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan yang harus dilestarikan supaya tidak berhenti berkembang.
2. KLASIFIKASI BAHASA                                                                 
   Berikut penjelasan klasifikasi-klasifikasi bahasa dengan pendekatan genetis, tipologi, areal dan sosiolingustik.
1. Klasifikasi Genetis Atau Geneologis                                                        
              Klasifikasi ini dihasilkan dengan pendekatan genetis, pendekatan yang hanya melihat garis keturunan bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, terdapat suatu bahasa yang disebut bahasa proto ( bahasa tua, semula) yang akan memiliki sub-sub bahasa lainya, sedangkan bahasa proto adalah induk yang menurunkan bahasa-bahasa lainya. Teori ini juga disebut dengan teori pohon oleh A. Schleicher karena keadaan dari suatu bahasa dengan induk sebagai bahasa proto dan sub-sub bahasa lainya seperti adanya cabang-cabang dan ranting-rantingnya yang memberi gambaran seperti gambar pohon terbalik. Kemudian tahun 1872 teori ini dilengkapi oleh J. Schmidt dengan menyebutnya sebagai teori gelombang.        
     Klasifikasi genetis ini berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu kesamaan bentuk  (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti ini dianggap atau diklasifikasikan kedalam satu rumpun bahasa atau bahasa proto yang sama.                 
           Ciri-ciri klasifikasi ini bersifat nonarbitrer, ekshaustik dan unik. Sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh greenberg diatas. Klasifikasi genetis bersifat nonarbitrer maksudnya adalah karena hanya mengunakan satu kriteria saja, yaitu garis keturunan atau dasar perkembangan sejarah yang sama. Dengan menggunakan dasar itu pula maka semua bahasa yang ada akan habis tidak tersisa dan semuanya masuk ke dalam kelompok bahasa proto tertentu tanpa terkecuali. Maka klasifikasi ini juga bersifat ekshaustik. Kemudian bersifat unik maksudnya karena setiap bahasa sudah masuk ke dalam rumpun bahasanaya atau bahasa proto tertentu menurut garis keturunanya akibatnya bahasa-bahasa tersebut tidak masuk ke dalam bahasa proto yang lain.                                    
               Sejauh ini para ahli telah memaparkan sebelas bahasa proto atau rumpun bahasa berdasarkan klasifikasi genetis, diantaranya :
 rumpun Indo Eropa, yakni bahasa-bahasa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavik, Roaman, Keltik dan Gaulis. rumpun Hamito-Semit atau Afro-Asiatik, yakni bahasa-bahasa Koptis, Berber, Kushid, Chad yang termasuk dalam sub rumpun Hamit; dan bahasa Arab, Etiopik, dan Ibrani yang termasuk subrumpun Semit.
1.      rumpun Chari-Nil, yakni bahasa-bahasa Swahili, Bantuk dan Khoisan.
2.      rumpun Dravida, yaitu bahasa-bahasa Telugu, Tamil, Kanari dan Malayalam
3.      Rumpun Austronesia (disebut juga Melayu Polinesia) yaitu bahasa Indonesia ( Melayu, Austronesia barat) Melanesia, Mikronesia dan Polinesia.
4.      Rumpun Kaukakus
5.      Rumpun Finno-Ugris yaitu bahasa-bahasa Hunggar, Lapis dan Samoyid
6.      Rumpun Paleo Asiatis atau Hiperbolis, yaitu bahasa-bahasa yang terdapat di Siberia Timur.
7.      Rumpun Ural-Altai, yaitu bahasa-bahasa Mongol, Manchu, Tungu, Turki, Korea dan Jepang.
8.      Rumpun Sino Tibet, yakni bahasa-bahasa Yenisei, Ostyak, Tibeto, Burma dan Cina.
9.      Rumpun bahasa-bahasa Indian, yakni bahasa-bahasa Eskimo, Aleut, Na-Dene, Algokin, Waksan, Hokon, Sioux, Penutio,Aztek, Tanoan dsb.
Untuk mengetahui di mana letak-letak bahasa-bahasa tersebut, lihatlah, misalnya International Encyclopedia of Lingustik oleh William Bright atau sumber lainya.
2. Klasifikasi Tipologis        
               Klasifikasi ini dilakukan dengan pendekatan dengan menggunakan kesamaan-kesamaan tipologi, baik fonologi, morfologi maupun sintaksis, tipe-tipe kesamaan tersebut yang terdapat pada sejumlah bahasa. klasifikasi tipologi ini dapat dilakukan pada semua tataran bahasa karena disetipa bahasa terdapat unsur yang berulang-ulang dan usnsur tersebut dapat menenai bunyi, morfem, kata, frase, kalimat dsb. dengan berbagai macam kemungkinan ciri yang digunakan dalam membuat klasifikasi tersebut maka hasil klasifikasi tersebut juga bermacam-macam. Oleh kareta itu klasifikasi tipologis memiliki sifat arbitrer, karena tidak terikat oleh tipe tertentu namun masih tetap bersifat ekshaustik dan unik.
Secara garis besar klasifikasi tipologis pada tataran morfologi dapat dibagi edalam tiga kelompok yakni :
Kelompok pertama : adalah kelompok yang semata-mata menggunakan bentuk bahasa sebagai dasar klasifikasi.
Yang pertama mengagas klasifikasi morfologi ini adalah Fredrich Von Schlegel. Pada tahun 1808 dan ia membagi bahasa-bahasa di dunia ini kedalam dua kelompok yaitu :
1. kelompok bahasa berafiks dan
2. kelompok bahasa berfleksi.
Pembagian ini kemudia diperluas oleh kakanya August Von Schlegel, pada taun1818 menjadi tiga kelompok yaitu :
1. bahasa tanpa struktur gramatikal (seperti bahasa Cina)
2. bahasa berafiks (seperti bahasa Turki)
3. bahasa berfleksi (seperti Sansekerta dan bahasa Latin.)
Kemudian berpijak dari klasifikasi August Von Schlegel tersebut beberapa sarjana seperti Wilhelm Von Humbol diikuti oleh A.F Pott membuat klasifikasi dengan menjadikan klasifikasi sebelumnya sebagai model. Wilhelm membuat klasifikasi :
1. bahasa Isolatif ( sama dengan bahasa tanpa struktur)
2. bahasa Aglutunatif (sama seperti bahasa berafiks)
3. bahasa fleksi atau sintetis; dan
4. bahasa polisintesis atau inkorporasi.
Kelompok kedua : adalah kelompok yang menggunakan akar-akar kata sebagai dasar klasifikasi. Tokoh kelompok ini antara lain : Franz Bopp, yang membagi bahasa di dunia ini atas bahasa yang mempunyai:
1. akar kata yang monosilabis, misalnya bahasa Cina
2. akar kata yang mampu mengadakan komposisi, misalnya bahasa-bahasa Indo Eropa dan bahasa Austronesia.
3. akar kata yang disilabis dengan tiga konsonan, seperti bahasa Arab dan Ibrani.
Sarjana lain, Max Muller yang juga menggunakan akar kata sebagai dasar klasifikasi membagi bahasa-bahasa di dunia menjadi :
1. bahasa akar seperti bahasa Cina
2. bahasa Terminasional seperti bahasa Turki dan Austronesia
3. bahasa Infleksional, seperti bahasa Arab dan bahasa-bahasa Indo- Eropa.
Kelompok ketiga : adalah kelompok yang menggunakan bentuk sintaksis sebagai dasar klasifikasi.
Tokohnya antara lain H. Steinthal yang membagi bahasa dunia atas 2 kelompok:
1. bahasa-bahasa yang berbentuk, maksudnya adalah bahasa yang didalam kalimatnya terdapat relasi antarkata. Bahasa ini dibagi menjadi :
a)      Bahasa kolokatif, misal Cina
b)      Bahasa derivatif dengan jukstraposisi, misal Koptis
c)      Bahasa derivatif dengan perubahan pada akar kata, misal Semit
d)     Bahasa derivatif dengan sufiks yang sebenanya, misal Sansekerta
2. bahasa-bahasa yang tidak berbentuk, jenis ini dibagi menjadi :
a)      Bahasa kolokatif, misal Indo China.
b)      Bahasa derivatif dengan deruplikasi dan prefiks misal bahasa Austronesia
c)      Bahasa derivatif dengan sufiks, misal bahasa Turki
d)     Bahasa inkorporasi, misal Indian Amerika
Franz Misteli mengikuti jejak Steinthal dengan istematik yang berbeda, bahasa berbentuk hanya dibagai ke dalam satu kelompok saja yaitu, bahasa dengan kata yang sesungguhnya (infleksi).sedangkan bahasa yang tidak berbentuk dibagi atas :
a)      Bahasa dengan kata yang berbentuk kalimat, misal bahasa Indian Amerika
b)      Bahasa isolatif akar, misal bahasa Cina
c)      Bahasa isolatif dasar, misal bahasa Melayu
d)     Bahasa jukstaposisi, misal bahasa Koptis
e)      Bahasa dengan kata yang jelas, misal bahasa Turki.
Pada abad XX ada juga kalsifikasi yang di buat dengan prinsip yang berbeda, misalnya yang dibuat oleh Sapir dan J Grennberg. Edward Sapir menggunakan tiga parameter untuk mengklasifikasikan bahasa-bahasa yang ada di dunia yakni :
1)      Konsep-konsep gramatikal, dari parameter ini dibedakan lagi menjadi : Bahasa relasional murni, Bahasa relasional murni kompleks, bahsa relasional campuran sederhana dan bahasa relasional campuran kompleks
2)      Proses-proses gramatikal, berdasarkan parameter kedua ini dibedakan lagi : bahasa isolatif, aglutanatif, fusional dan simbolik
3)      Tingkat penggunaan morfem dan kata. berdasarkan parameter ke tiga ini dibedakan lagi :  bahasa analitis, sintesis dan polisintesis.
3. Klasifikasi Areal
Klasifikasi areal dilakukukan berdasarkan adanya hubungan timbal-balik antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain di dalam suatu area atau wilayah. Tanpa memperhatikan apakah bahasa itu berkerabat secara genetik atau tidak. Yang terpentingadalah adanya data pijam meminjam yang meliputi pinjaman bentuk dan arti, atau pinjaman bentuk saja, atau pinjaman arti saja, pinjam meminjam ini karena adanya kontak bahasa, bersifat historis dan konvergetif. Jika sebuah bahasa tidak menerima atau memberikan pengaruh yang berarti, maka ia tidak dapat dimasukan dalam kelompok bahasa mana pun.
Disamping itu, perlu diketahui bahwa klasifikasi ini sanga mempertimbangkan dimesi waktu dan modalitas ruang yang dijadikan pertimbangan seperti dalam klasifikasi genetis.
Klasifikasi areal ini bersifat arbitrer dalam hal-hal tertentu, maksudnya adalah karena dalam kontak sejarah bahasa-baasa itu memberikan pengaruh timbal balik dalam hal-hal tertentu. Kemudian bersifat nonekshaustik sebab masih banyak bahasa-bahasa di dunia ini yang masing bersifat tertutup dalam arti belum menerima unsur-unsur tadi. Jadi bahasa yang seperti itu belum dapat dikelompokan atau belum masuk ke dalam salah satu kelompok dan klasifikasi ini bersifat nonunik, sebab ada kemungkinan sebuah bahasa dapat masuk ke dalam kelompok tertentu dan dapat mask kedalam kelompok lain.
Tokoh yang pernah melakukan klsifikasi ini adalah Wilhelm Schmidt dengan bukunya Die Sprachfamillien und Sprachenkreise der Ende.
4. klasifikasi Sosiolingustik
Klasifikasi sosiolingustik dilakukan berdasarkan hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor yang berlaku dalam masyarakat; tepatnya berdasarkan status, fungsi, penilaian yang diberikan masyarakat terhadap bahasa itu. klasifikasi ini pernah dilakukan oleh William A Stuart tahun 1962 yang terdapat dalam artikelnya "An Outline of Lingustic Typology for Describing Multilingualism" klasifikasi ini dilakukan berdasarkan kriteria : historitas, standardisasi, vitalitas dan homogenesitas.
1. historitas : berkenaan dengan sejarah perkembangan bahasa atas sejarah pemakaian bahasa.
2. standardisasi : berkenaan sebagai statusnya sebagai bahasa baku atau tidak baku atau status pemakainaya sebagai bahasa forma atau informal.
3. vitalitas : berkenaan dengan apakah bahasa itu mempunyai penutur yang menggunakanya dalam kegiatan sehari-hari secara aktif atau tidak.
4. homogenesitas : berkenaan dengan apakah leksikon dan tata bahasa dari bahasa itu diturunkan.
Sifat klasifikasi ini adalah arbitrer, ekshaustik  dan nonunik. Dikatakan arbitrer karena tidak ada ketentuan dalam klasifikasi sosiolingustik, hanya harus menggunakan keempat kriteria terebut. Maka ada kemungkinana pakar lain akan menggunakan kriteria lain lagi. Dikatakan ekshaustik karena semua bahsa yang ada didunia dapat dimasukan kedalam kelompok-kelompok tertentu. Namun klasifikasi ini bersifat nonunik sebabnya adalah sebuah bahasa bisa mempunyai status yang berbeda.  Misalnya, bahasa Jerman di Jerman bersatatuts  standar, tetapi di Swiss bersifat kedaerahan atau substandar. Contoh lain adalah bahasa Ibrani yang merupakan bahasa klasik dalam ibadah bangsa Yahudi, tetapi oleh Israel ditetapkan bahsa itu sebagai bahasa resmi (negara) mereka.
3.    PERSAMAAN BAHASA DALAM MASYARAKAT INDONESIA
Ketika terjadi persamaan bahasa dalam masyarakat Indonesia,hubungan silaturahmi dalam masyarakat menjadi semakin terjalin erat lagi sehingga mengukuhkan keakraban dan kebersamaan dalam lingkup masyarakat.
Patokan penting suatu bahasa antara lain:
1.jumlah penutur yang meluas diseluruh pelosok tanah air
Mengingat jumlah penutur bahasa Indonesia sangat banyak,maka dapat disimpulkan hal bahwa bahasa sangat penting dalam kehidupan
2.luas penyebaran bahasa
Hampir seluruh daerah hingga daerah terpelosok,semua golongan masyarakat mampu mengucapkan bahasa Indonesia dengan fasih sehingga hal ini juga menjadi alas an bahasa sangatlah penting.
3.bahasa diterima oleh seluruh penduduk Negara

Dengan digunakannya bahasa sebagai bahasa nasional maka hal inilah yang menjadi patokan paling penting dalam kehidupan.

soal antropologi XI mengenai persamaan dan perbedaan budaya 1- 21

1.      Ada beberapa hal untuk memperkecil masalah akibat pengaruh negatif dari keberagaman diantaranya,kecuali....
a.       Semangat religus
b.      Semangat nasionalisme
c.       Semangat humanisme
d.      Dialog antar umat beragama
e.       Semangat chauvinisme
2.      Semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan bukti nyata bahwa Indonesia merupakan negara.....
a.       Maritim
b.      Kerajaan
c.       Agraris
d.      Kesatuan
e.       Republik
3.      1 pengetahuan                         4. Nilai
2. pandangan                           5. Praktik dari sebuah komunitas
3. agama                                  6. Tradisi
Yang tercakup dalam kearifan lokal adalah .....
a.       1,2,3,4
b.      2,3,4,6
c.       2,4,5,6
d.      1,2,4,5
e.       1,4,5,6
4.      Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan bahasa nenek moyang sendiri sendiri dan berbeda – beda. Dari penjelasan tersebut termasuk kedalam faktor penyebab ragam bahasa....
a.       Perbedaan wilayah
b.      Perbedaan adat istiadat
c.       Faktor budaya daerah
d.      Faktor tingkat pendidikan
e.       Perbedaan demografi
5.      Pada buku linguistik umum(Chaer, 2012;72-82) menyatakan klasifikasi bahasa dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan, diantaranya kecuali .....
a.       Pendekatan tripologis
b.      Pendekatan areal
c.       Pendekatan sosiolinguistik
d.      Pendekatan tipologis
e.       Pendekatan genetis
6.      Perhatikan soal berikut dengan seksama
a.       tingkah laku
b.      bahasa
c.       budaya
d.      lagu , music
e.       warna , corak                                                                                         
yang cocok dengan kata”ragam”menurut kamus bahasa Indonesia yaitu….
a.     a,b dan c
b.    a,c dan d
c.     a,b dan e
d.    a,c dan e
e.     b,c dan d
7.      ada beberapa faktor penyebab ragam bahasa di Indonesia yaitu? , kecuali......
a.       perbedaan wilayah
b.      perbedaan adat istiadat
c.       perbedaan demografi
d.      perbedaan  budaya daerah
e.       a , b , dan c benar
8.      penyebab terjadinya Dialek yang beragam dapat disebabkan oleh beberapa faktor , yaitu ..
a.       faktor tatanan lafal
b.      faktor tempat / lokasi
c.       faktor bahasa
d.      faktor suara
e.       faktor fonetik
9.      kearifan lokal  adalah perangkat pengetahuan dan praktek – praktek yang di gunakan untuk menyelesaikan kesulitan yang di hadapi , apa contoh wujud kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari …
a.       pekerjaan
b.      pengetahuan
c.       pengeluaran
d.      keuangan
e.       bisnis
10.  setiap Dialek memiliki perbedaan , karena dialek suatu daerah berbeda , dengan daerah lainnya perbedaan dialek dapat di bagi menjadi 5 macam , kelima macam perbedaan adalah sebagai berikut , kecuali ….
a.       fonetik
b.      semantik
c.       sosiologi
d.      morfoligis
e.       a,b,c
11.   Perhatikan kata kata berikut ini dengan saksama!
1)        tingkah laku
2)        bahasa
3)        budaya
4)        lagu, musik, langgam
5)        warna, corak, ragam
 Keragaman berasal dari kata “ragam”.Kata kata diatas yang termasuk arti dari ragam adalah.....
a.       1, 2, dan 3
b.      1, 3, dan 5
c.       1, 4, dan 5
d.      2, 3, dan 5
e.       2, 4, dan 5
12.   Tradisi lisan yang ada di Indonesia memiliki persamaan dalam hal fungsi. Fungsi yang paling mencolok dari seni tradisi lisan adalah.....
a.       hiburan
b.      keindahan
c.       pendidikan nilai
d.      sosial
e.       ekonomi
13.  Faktor perpindahan penduduk dan perubahan lokasi pemukiman juga dapat menjadi penyebab adanya dialek.....
a.       a.regional
b.      b.temporal
c.       c.kelas sosial
d.      d.permanen
e.       e.waktu
14.  Daerah pertanian sawah (wet ricecultivation) di Indonesia banyak dijumpai di pulau.....
a.       Sulawesi
b.      Kalimantan
c.       Jawa dan Bali
d.      Sumatera
e.       Papua
15.  Alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, disebut dengan.....
a.       surat
b.      telepon
c.       bahasa
d.      internet
e.       telegram
16.  Di lihat dari fungsinya, bahasa mempunyai dua fungsi yaitu fungsi bahasa secara umum dan secara khusus. Salah satu fungsi bahasa secara khusus adalah untuk tujuan filosofis yaitu sebagai alat untuk…
a.       Kunci dalam mempelajari ilmu- ilmu yang lain
b.      Menggunakan bahasa dengan cara seindah- indahnya
c.       Mempelajari naskah- naskah kuno
d.      Mengadakan interaksi dan adaptasi sosial
e.       Mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari hari
17.  Bahasa sebagai salah satu unsur budaya sangat penting dalam pergaulan. Fungsi bahasa secara khusus adalah untuk tujuan artistic, yaitu sebagai alat untuk….
a.       Pemuas estetika
b.      Mengekspresikan jiwa
c.       Mengadakan adaptasi
d.      Pergaulan sehari-hari
e.       Kepentingan ilmu pengetahuan
18.  Perbedaan dialek antara bahasa Jawa Ngoko dengan bahasa Jawa Krama di Jawa Tengah termasuk dalam jenis perbedaan dialek…
a.       Sosial
b.      Budaya
c.       Bahasa
d.      Daerah
e.       Etnis
19.  perhatikan ciri- ciri berikut!
a)      (1)   berbicara secara formal       (3) jelas dan mudahdipahami
b)      (2)   berbicara secara informal    (4) variatif/ macam- macam
Ciri- ciri bahasa dan dialek yang digunakan masyarakat ketika berada di terminal adalah…
a.(1) dan (2)
b.(1) dan (3)
c.(2) dan (3)
d.(2) dan (4)
e.(3) dan (4)
20.  Berikut ini yang tidak termasuk penyebab memburuknya perkembangan dialek bahasa daerah adalah…
a.       Susunan bahasa kebangsaan Indonesia
b.      Banyaknya koran masuk desa
c.       Di sekolah digunakan bahasa Indonesia
d.      Maraknya hiburan di stasiun Televisi
e.       Gencarnya usaha pelestarian bahasa daerah
21.  Dialek Bahasa Jawa diklasifikasikan menjadi dua yaitu dialek daerah dan dialek sosial. Perhatikan pernyataan berikut ini!
1)Jawa Ngoko
2) Jawa Kromo alus
3) Jawa Timuran
4) Jawa Banyumasan
5) Jawa Cirebonan
Pernyataan yang termasuk dalam Bahasa Jawa klasifikasi dialek daerah adalah…
a.1, 2, 3
b. 1, 3, 5
c.2, 3, 4
d.2, 3, 5
e.3, 4, 5





















1.      Klasifikasi Genetis mempunyai beberapa sifat diantaranya, Jelaskan
2.      Mengapa masyarakat Indonesia rata-rata mempunyai dwibahasa ?
3.      Apa saja faktor yang menjadi penyebab terjadinya dialek yang beragam?
4.      Jelaskan pengertian dari perbedaan Fonetik!
5.      Tradisi lisan memiliki beberapa fungsi, salah satu ciri dimiliki oleh seni rakyat yaitu fungsi menghibur. Apa saja manfaat dari hiburan ?




















1.      E. Semangat chauvinisme
Beberapa hal untuk memperkecil masalah akibat pengaruh negatif dari keberagaman diantaranya
a.       Semangat religus
b.      Semangat nasionalisme
c.       Semangat pliralisme
d.      Semangat humanisme
e.       Dialog antarumat beragama
f.       Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antaragama, media massa, dan harmonisasi dunia.
2.      D. kesatuan
Semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan bukti nyata bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan
3.      F. 1,2,4,5
Kearifan lokal mencakup pula berbagai pengetahuan, pengetahuan, nilai serta praktik dari sebuah komunitas, masyarakat atau budaya lain
4.      A. Perbedaan wilayah
Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan bahasa nenek moyang sendiri sendiri dan berbeda – beda.Seperti wilayah jawa dan papua
5.      A. Pendekatan Tripologis
Pada buku linguistik umum(Chaer, 2012;72-82) menyatakan klasifikasi bahasa dapat dilakukan dengan berbagai macam pendekatan, diantaranya
1.      Pendekatan areal
2.      Pendekatan sosiolinguistik
3.      Pendekatan tipologis
4.      Pendekatan genetis
6.      A. Tingkah laku
 karena  jika , warna , musik , corak  , dan lagu tidak termasuk dalam definisi  keragaman budaya
7.      B.  perbedaan adat istiadat
 karena budaya daerah termasuk dalam penjelasannya dan tidak termasuk dalam ragam bahasa
8.      B. faktor tempat / lokasi
karena karena faktor tempat atau lokasi dapat melahirkan dialek tempat , lokasi , atau regional 
9.         B. pengetahuan
karena wujud kearifan lokal dalam kehidupan sehari hari bisa berupa pengetehuan
10.    C. sosiologi
karena sosiologi adalah mata  pelajaran dan tidak termasuk dalam perbedaan dialek.
11.   C1, 4, dan 5
karna ragam mempunyai arti suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan dalam tingkah laku,lagu;musik;langgam,danwarna,corak,ragi
12.  C .kelas sosial
sebagai fungsi pendidikan nilai,senitradisi,lisan memberikan informasi dan internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam suatu seni tradisi
13.   A. a.regional
karena perpindahan penduduk dan perubahan lokasi pemukiman juga menjadi salah  satu penyebab adanya dialek tempat atau regional ini
14.  C. Jawa dan Bali.
karena pulau Jawa dan pulau Bali kondisi tanah dan cuacanya cocok untuk dijadikan  lahan pertanian sawah
15.  C. bahasa
karna tanpa adanya bahasa,manusia akan sulit berkomunikasi,dan pastinya kebudayaangakan berhenti berkembang bahkan hilang.
16.  c. untuk mengetahui filosofi atau asal asul suatu sejarah dengan mempelajari naskah kuno
karena tujuan filosofis yaitu untuk mengetahui filosofi atau asal asul suatu sejarah dengan mempelajari naskah kuno
17.  a. pemuas estetika
bahasa sebagai pemuas estetika atau untuk pemenuhan haasrat seni biasanya dituangkan dalam syair,puisi ataupun cerpen,dll.
18.  a. sosial.
karena jika tingkat sosialnya lebih tinggi maka terjadi perbedaan dialek bahasa jawa dijawa tengah
19.   c.(2) dan (3)
ketika berada diterminal masyarakat cenderung menggunakan dialek yang informal namun jelas dan mudah dipahami karena hal ini dibutuhkan dalam suasana saat diterminal berinteraksi dengan orang orang.
20.  e.Gencarnya usaha pelestarian bahasa daerah
karena jika dialek bahasa daerah terus dilestarikan maka perkembangannya tidak akan memburuk
21.  e.3,4,5
merupakan dialek daerah karena setiap  daerah memiliki dialek yang berbeda







1.      Klasifikasi genetis mempunyai beberapa sifat,, diantarannya..
1.      Bersifat nonarbitrer, karena hanya menggunakan satu kriteria
2.      Bersifat ekshaustik atau tuntas, karena semua bahasa dapat dimasukan ke dalam suatu kelompok
3.      Bersifat unik, karena setiap bahasa masuk ke dalam satu kelompok menurut garis keturunanya, maka akibatnya dia tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok lain.
2.      Bangsa Indonesia mempunyai beragam bahasa daerah, namun disisi lain kita juga disatukan oleh bahasa yang sama yaitu bahasa Indonesia. Sehingga masyarakat Indonesia umumnya mempunyai dwibahasa, yang artinya selain menguasai bahasa ibu (bahasa daerahnya) juga menguasai bahasa Indonesia
3.      Faktor penyebab terjadinya dialek yang beragam dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut
a.       Faktor tempat atau lokasi, misalnya saja dapat melahirkan dialek tempat, lokasi, atau regional
b.      Faktor perpindahan penduduk dan perubahan lokasi pemukiman juga dapat  menjadi penyebab adanya dialek tempat atau regional ini
c.       Perbedaan dalam hal waktu pemakaian terhadap variasi bahasa tertentu  akan melahirkan dialek waktu atau temporal
d.      Perbedaan dalam hal status atau kelas sosial akan dapat melahirkan dialek kelas sosial atau dialek sosial
e.       Perbedaan dalam hal pekerjaan atau profesi dapat juga melahirkan bentuk dialek yang berbeda, tergantung kepada kekhasan profesi yang dimilikinya.
4.      Perbedaan fonetik. Perbedaan ini berada di bidang fonelogi. Biasanya si pemakai dialek atau bahasa yang bersangkutan tidak menyadari adanya bahasa tersebut. Contoh gudang dengan kudang
5.      Manfaat dari hiburan diantarannya
1.      Untuk memulihkan orang pada rasa spontan

2.      Untuk mengembalikan orang pada semangat anak – anak.