Wednesday, March 30, 2016

AKULTURASI BUDAYA HINDU – BUDHA DAN ISLAM DI INDONESIA pada adat potong rambut gimbal



Pada umumnya masyarakat dataran tinggi Dieng merupakan pemeluk agama Islam yang patuh dan taat. Namun karena kebudayaan Jawa yang masih mendarah daging, masyarakat dataran tinggi Dieng termasuk pemeluk agama Islam yang sinktretisme. Misalnya masih adanya ritual adat Jawa yang berbau animisme dan dinamisme. Terutama pada tempat yang dianggap dan dipercayai masyarakat dataran tinggi Dieng sebagai tempat keramat dan berbagai mitos yang ada di dataran tinggi Dieng. Fenomena yang terjadi pada anak- anak di dataran tinggi Dieng telah terjadi secara turun-temurun yang melekat pada masyarakat dataran tinggi Dieng. Fenomena yang terjadi pada masyarakat dataran tinggi Dieng adalah adanya anak berambut gimbal.
Proses penggumpalannya dapat saja terjadi jika panas atau demam diderita anak yang akan berambut gimbal lebih kurang selama 1 bulan. Rambut gimbal tumbuh satu persatu saat anak yang akan berambut gimbal menderita sakit panas atau demam tinggi. Sakit panas akan sembuh setelah rambut gimbal tumbuh secara keseluruhan. Masyarakat percaya walaupun telah diperiksakan ke dokter tetapi tetap tumbuh rambut gimbal percaya terhadap Kolodete sebagai orang pertama yang menetap di dataran tinggi Dieng dan menitiskan gimbal pada anak berambut gimbal serta tokoh mitos lain seperti Nyi Roro Ronce dari pantai selatan, Ada juga yang percaya anak rambut gimbal titisan dari Nini Robsong dan Ki Robsong.
Tujuan melakukan ruwatan anak rambut gimbal untuk menghilangkan sial atau balak. Selain itu ruwatan dilakukan sebagai wujud memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa.Ruwatan rambut gimbal terdiri dari dua versi yaitu tradisi ruwatan secara Islam dengan dipimpin ulama pada jaman dahulu dan ruwatan secara tradisional yang dipimpin oleh tokoh adat.
Tradisi ruwatan rambut gimbal dalam Islam dilaksanakan dengan selametan yang bertujuan memohon keselamatan pada Allah SWT tidak ada unsur lain misalnya mistik dan klenik. tujuan dari ruwatan atau cukur rambut gimbal adalah ajaran Islam tentang tolong-menolong, bersedekah dan memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa.
Biasanya ruwatan yang dipimpin oleh tokoh adat dilakukan secara berkelompok. Masyarakat dataran tinggi dieng melakukan tradisi ruwatan dengan berbagai tujuan.Tradisi ini dilakukan dengan sangat komplek dan banyak memakan biaya. Sehingga dalam tradisi ruwatan yang pada prosesnya ada sesajen ataupun perlengkapan, misalnya anak-anak tersebut harus mengikuti arak-arakan dan berbagai prosesi acara. Anak-anak gembel memakai baju serba putih dalam tradisi tersebut. Tradisi ruwatan biasana di adakan di daerah sendang Maerokoco kompleks candi Arjuna atau candi Pendawa Lima (hindu).
Waktu penyelenggaraan upacara pada malam hari bersamaan dengan hari kelahiran(berdasarkan weton hari dan pasaran). Adapun bulan yang dipakai untuk melaksanakan yakni malam 1 suro


Dari analisis gambar diatas dapat disimpulkan akulturasi budaya Hindu – Budha dan Islam dari adat potong rambut gimbal adalah :
Agama
Bukti



HINDU - BUDHA
adanya ritual adat Jawa yang berbau animisme dan dinamisme seperti  percaya adanya titisan dari leluhur dan juga ruwatan menggunakan sesajen dan diadakan di daerah candi(hindu) yang di yakini tempat bersemayamnya para dewa. Pemilihan tanggal dan bulan untuk acara

ISLAM
Adanya acara tahlil/doa bersama sebelum acara dimulai untuk memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa.


tag ; akulturasi, sosial, sosiologi, Antropologi, Budaya, hindu budha , islam, potong rambut, style rambut

please leave coment

 tinggalkan komentar

No comments:

Post a Comment