Wednesday, October 10, 2018

Interaksi Sosial


 PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL
Menurut Walgito (2003), interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik. Interaksi sosial merupakan salah satu cara individu untuk memelihara tingkah laku sosial individu tersebut sehingga individu tetap dapat bertingkah laku sosial dengan individu lain. Interaksi sosial dapat pula meningkatkan jumlah atau kuantitas dan mutu atau kualitas dari tingkah laku sosial individu sehingga individu makin matang di dalam bertingkah laku sosial dengan individu lain di dalam situasi sosial (Santoso, 2010).
Menurut Soekanto (2012), interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Soekanto (2012), mengemukakan bahwa bentuk-bentuk interaksi sosial yaitu (1) kerja sama yang berarti suatu uasaha bersama antara perorangan ataukelompok untuk mencapai suatu tujuan, (2) akomodasi, sebagai suatu proses di mana orang perorangan saling bertentangan, kemudian saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan, (3) persaingan, diartikan sebagai suatu proses di mana individu atau kelompok bersaing mencari keuntungan melalui bidang kehidupan dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan kekerasan atau ancaman, dan (4) konflik/pertentangan, adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan. (Virgia Ningrum Fatnar, 2014)[1]
Berdasarkan pemaparan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan antara satu individu dengan individu lain maupun kelompok dengan individu yang dapat mempengaruhi, bekerja sama, merubah, ataupun memperbaiki sehingga tercipta suatu hubungan timbal balik


2.2  SYARAT INTERAKSI SOSIAL
Syarat terjadinya Interaksi Sosial adanya kontak sosial baik secara langsung dan tidak langsung, dan komunikasi.
2.3  BENTUK INTERAKSI SOSIAL
Menurut Gilin dan Gilin bentuk interaksi adalah:
1.      Proses yang Asosiatif
Interaksi sosial yang mengarah pada persatuan yang dapat meningkatkan rasa solidaritas antar perorangan atau kelompok. Proses Asosiatif meliputi:
a.       Kerja Sama
Usaha bersama antara perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Bentuk-bentuk kerja sama yaitu:
a.       Bargaining, yaitu perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua pihak atau lebih
b.      Kooptasi, Kerja sama dalam memilih pemimpin untuk memimpin suatu organisasi
c.       Koalisi, Kerja sama antara dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan sama
d.      Joint Venture, Kerja sama antara dua badan usaha atau lebih untuk mencapai keuntungan bersama dalam bidang ekonomi
b.      Akomodasi
Interaksi Sosial untuk menyelesaikan suatu masalah. Bentuk-bentuk Akomodasi:
a.       Koersi, bentuk akomodasi yang dilakukan dengan tekanan(pemaksaan)
b.      Kompromi, perundingan secara damai antara dua pihak
c.       Arbitrase, penyelesaian antara dua pihak yang diselesaikan pihak ke-3 yang pihak ke-3 dipilih oleh dua pihak yang berselisih
d.      Mediasi, Penyelesaian masalah dengan pihak ke-3 tetapi pihak ke-3 bersifat netral
e.       Konsilisasi, penyelesaian masalah dengan melalui lembaga sosial
f.       Toleransi, sikap yang menghargai perbedaan
g.      Stalemate, kedua pihak memiliki kekuatan yang seimbang sehingga masalah terhenti di satu titik
h.      Ajudikasi, penyelesaian konflik melalui pengadilan
4
c.       Akulturasi
Peleburan budaya asli dan budaya baru menjadi kebudayaan suatu kelompok tanpa menghilangkan ciri khas dari budaya asli
d.      Asimilasi
Peleburan dua kebudayaan yang menghasilkan kebudayaan yang baru
2.      Proses yang Disosiatif
Interaksi sosial yang dapat mengarah pada perpecahan. Proses Disosiatif meliputi:
a.       Persaingan
Proses sosial yang dilakukan individu atau kelompok yang bersaing untuk memperoleh atau mencari keuntungan tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan.
b.      Kontravensi
Suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Atau salah satu usaha menghalangi dan menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain
c.       Pertentangan
Proses sosial individu atau kelompok secara sadar maupun tidak sadar menentang pihak lain disertai ancaman.


3

Tuesday, July 24, 2018

Acara 17 agustusan di SMAN 22 SURABAYA (INDEPENDENT DAY OF INDONESIA)

KEGIATAN DI SMA NEGERI 22 SURABAYA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA YANG KE 72

Selasa (15/08) rabu (16/08) SMA NEGERI 22 SURABAYA.
Kembali lagi dengan saya Annisa Dinalar dari XII IBB. Pada kesempatan kali ini saya akan bercerita mengenai kegiatan 17 Agusutus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia tepatnya yang ke 72. Wah wah tidak disangka ya Indonesia, negara kita tercinta sudah merdeka sejak 72 tahun yang lalu.
Selasa pagi, burung bernyanyi menyambut pagi hari. Tak mau kalah, dengan semangat pagi siswa siswi SMAN 22 SURABAYA rupanya berantusias tinggi menyambut hari ini. Kau mungkin tahu, acara 17an kali ini merupakan acara yang terakhir untuk kelas 12. Mengapa? Tentu karena tahun depan mungkin kita sudah tidak berada di SMA negeri 22 Surabaya. Sedih memang tapi inilah kenyataan hidup.
Tak mau menyianyiakan waktu, setelah berdoa bersama seperti biasa siswa siswi SMAN 22 bergegas menuju halaman sekolah guna mengikuti lomba lomba yang diadakan OSIS. Ada berbagai macam lomba yang diadakan diantaranya kebersihan kelas, lomba bakiak, tarik tambang putri, bola air, topi kerucut, dan futsal helm.
Lomba pertama dibuka dengan perlombaan tarik tambang putri antar kelas. Wah pagi pagi sudah beradu otot saja nih. Tetapi dalam lomba tarik tambang kali ini saya rasa sangat kurang diperhatikan dalam pelaksanaannya. Bagaimana tidak, lomba tarik tambang yang seharusnya setiap peserta menggunakan sarung tangan sebagai alat keamanan malah menggunakan tangan kosong dengan tambahan tepung sebagai media penghilang keringat. Kebanyakan dari peserta mengalami beberapa cedera di tangannya. Termasuk beberapa teman saya sendiri yang mengikuti lomba tarik tambang tanganya sobek dan berdarah. Mungkinini bisa dijadikan evaluasi untuk kedepannya. Tapi tenang dibalik itu semua tarik tambang tak kehilangan antusias peminatnya. Banyak sekali sorak semorak dari kawan kawan pendukung kelas masing masing.
Untuk perlombaan bola air, topi kerucut dan bakiak. saya rasa sudah cukup baik dalam proses perencanaan dan pelaksanaannya. Dalam pelaksanaan lomba bola air dan topi kerucut  kita dilatih kesabaran serta strategi bagaimana untuk bertindak tenang dan konsentrasi  namun cepat selesai. Sedangkan dalam lomba bakiak kekompakan dan kerja sama masing - masing kelompok adalah kunci utama untuk menang.
Matahari tengah berlomba mencapi puncaknya. Pertanda lomba futsal helm telah dimulai. Lomba ini nih yang pasti sudah ditunggu para cowok cowok SMAN 22 SURABAYA. Lomba futsal menggunakan helm?? Pasti satu diantara kalian para pembaca terheran heran mendengar kalimat tersebut. Tapi memang benar adanya. Lomba futsal helm ini sebenarnya sama saja dengan lomba futsal pada umumnya hanya saja dalam pelaksanaannya peserta diwajibkn menggunakan helm dengan kaca tertutup selama permainan berlangsung. Jika salah satu peserta membuka kaca helm dan diwaktu bersamaan peserta tersebut menge’gol’kan bola maka gol tersebut dianggap 0 atau gol tidak dihitung. Nah dari pengalaman yang teman saya dapatkan ketika ia mengikuti lomba ini, penggunaan helm dapat memperkecil pandangan, ya kita tidak bisa dengan leluasa dan cepat menoleh ke segala arah. Intinya pandangan menjadi minimalis. Selain pandangan menjadi minimalis penggunaan helm juga mempengaruhi sundulan bola. Meskipun begitu semangat serat antusis para pemain futsal ini tak kalah seru dengan pemain tarik tambang. Penonton pun tak mau tinggal diam, terbukti ketika memasuki final mereka menyanyikan beberapa chant serta memakai macam atribut untuk mendukung kelas mereka. Keren ya....
Dihari kedua tepatnya rabu (16/08) kami dibuat amazing sekaligus mengocok perut. Ya benar apalagi kalau bukan dari penanmpilan cheers gak jelas atau biasa disebut CGJ yang sukses membuat penonton kembali bersemangat. CGJ ini terdiri dari beberapa anak laki laki anggota OSIS-MPK yang berdandan menyerupai wanita. Mereka tidak hanya sekedar dandan menyerupai wanita aja lo, make up dan kostum yang super duper unik turut mengambil alih kejenuhan penonton. Sontak ketika CGJ disebut sebut akan tampil, para penonton langsung riuh memadati lapangan. Tak peduli panas matahari mulai membakar kulit mereka. Mereka rela bersempit sempitan hanya untuk melihat penampilan fenomenal ini yang hanya ada di SMA NEGERI 22 SURABAYA. Memang penampilan CGJ hanya seperkian menit tapi aksi kocak mereka sukses membuat penonton bersorak dan tertawa terpingkal pingkal.
Ada juga penampilan dari D2DC. Sebelum CGJ tampil D2DC terlebih dahulu sudah berhasil membuat penonton terlena  dengan penampilannya yang dikemas super apik. D2DC merupakan nama ekstrakulikuler dari dance SMAN 22 surabaya. D2DC ini terdiri dari beberapa wanita yang mempunyai power dan berbakat dalam melenggak lenggokan tubuhnya. D2DC ini sudah banyak mendapatkan juara – juara yang mampu menaikan nama SMAN 22 SURABAYA.

Sekian cerita saya mengenai acara 17an yang ada di SMAN 22 SURABAYA. Jangan bosan – bosan untuk membaca cerita dan pengalam dari saya. Terima kasih.

Friday, July 20, 2018

Macam Macam Etnografi dan pendekatannya


APA TIPE-TIPE RANCANGAN ENOGRAFIS?   
Dengan perkembangan seperti digambarkan di atas, pendekatan eklektif menjadi suatu ciri dari penelitian etnografis pendidikan saat ini. Bagi seorang peneliti yang baru terhadap etnografi, panjangnya daftar tidak menjadi penting ketimbang fokus terhadap bentuk-bentuk utama seperti yang dipublikasikan dalam laporan-laporan penelitian pendidikan. Tanpa diragukan lagi, penelitian etnografis tidak selamanya cocok (pas) untuk kategori-kategori, akan tetapi ada tiga bentuk yang jelas:
v  Etnografi Realis
v  Studi kasus
v  Etnografi Kritis

Etnografi Realis
Etnografi realis adalah sebuah pendekatan yang populer yang digunakan oleh para antropologi budaya. Dicirikan oleh Van Maanen (1988), ia mencerminkan sebuah pandangan tertentu yang diambil oleh si peneliti terhadap para individu yang sedang diteliti. Etnografi realis adalah sebuah kisah yang ditampilkan secara objektif dari suatu situasi, biasanya ditulis dari sudut padangan orang ketiga, yang melaporkan secara objektif informasi yang dipelajari dari para partisipan di situs (lapangan). Dalam rancangan etnografis ini:
v  Para etnografer realis menarasikan penelitiannya dalam suara orang ketiga yang tidak memihak dan melaporkan observasinya terhadap para partisipan serta pandangan mereka. Si etnografer tidak menawarkan refleksi-refleksi pribadi dalam laporan penelitiannya dan tetap berada di latar belakang sebagai pelapor “fakta” yang “omniscient” (yang serba tahu).
v  Si peneliti melaporkan data-data objektif dalam gaya yang terukur tanpa terkontaminasi oleh bias pribadi, tujuan-tujuan politis, dan pertimbangan. Si peneliti boleh memberikan detil keseharian dari orang-orang yang sedang diteliti. Si etnografer juga menggunakan kategri-kategori standar berkaitan dengan deskpripsi budaya (seperti kehidupan di lingkungan keluarga, kehidupan di lingkungan kerja, jejaring sosial, sistem status).
v  Para etnografer mengungkapkan pandangan-pandangan para partisipan melalui pengeditan secara ketat kutipan-kutipan dan memberikan kata-kata akhir berupa interpretasi dan penyajian budaya (Van Maanen, 1988).
Jenis etnografi seperti ini sudah lama menjadi tradisi dalam antropologi budaya dan pendidikan. Contoh, Wolcott (1974, 1994) menggunakan pendekatan realis terhadap etnografi untuk meneliti aktivitas-aktivitas sebuah komite yang ditunjuk untuk menyeleksi seorang kepala sekolah. Penelitian tersebut berkaitan dengan proses yang dialami oleh sebuah komite pemilihan sekolah ketika mereka mewawancarai para calon. Wolcott memulai dengan seorang calon sampai akhirnya individu terakhir diidentifikasi. Dengan mengikuti deskprisi proses wawancara ini, Wolcott memberikan interpretasi terhadap tindakan-tindakan komite dalam batas-batas kurangnya pengetahuan profesional, tingkah laku mereka yang tak kondusif, dan keengganan sekolah untuk beruah.
Sebagai seorang etnografer yang realis, Wolcott memberikan sebuah kisah tentang keputusan yang dibuat oleh komite seolah-olah ia sedang milihat ke dalam dari luar, melaporkan prosedur secara objektif, dan juga mencakup pandangan para partisipan. Interpretasi pada akhirnya menampilkan penyajian pandangan Wolcott tentang pola-pola yang dia lihat yang dilakukan oleh komite pemilihan kelompok budaya.

Studi Kasus
Para penulis sering menggunakan istilah studi kasus sehubungan dengan etnografi (misalnya lihat LeCmpte & Schensul, 1999).  Studi kasus merupakan sebuah tipe etnografi yang penting, walaupun ia sebenarnya berbeda dengan etnografi dalam beberapa hal penting. Para peneliti studi kasus boleh jadi memfouskan diri pada program, peristiwa, atau aktivitas yang melibatkan individu-individu ketimbang semata-mata kelompok (Stake, 1995). Juga, ketika para peneliti studi kasus meneliti sebuah kelompok, mereka boleh jadi lebih tertarik pada mendeskripsikan aktivitas-aktivitas kelompok ketimbang mengidentifikasi pola-pola bertingkah laku yang diperlihatkan oleh kelompok tersebut. Para etnografer berusaha menemukan pola-pola kebersamaan yang bekembang sebagai sebuah kelompok yang saling berinteraksi untuk jangka waktu tertentu. Akhirnya, para peneliti studi kasus akan cenderung kurang mengidentifikasi tema-tema budaya untuk dikaji pada awal dari sebuah penelitian, terutama dari sisi antropologi; sebaliknya, mereka akan terfokus pada eksplorasi mendalam tentang “kasus” aktual.
Walaupun beberapa orang peneliti mngidentifikasi “kasus” sebagai sebuah objek kajian (Stake, 1995), yang lainnya menganggap ini sebagai prosedur inkuiri (seperti Merriam, 1998). Studi kasus adalah sebuah eksplorasi mendalam tentang bounded system (suatu sistem tertutup) seperti aktivitas, peristiwa, proses, atau individu berbasis pengumpulan data yang ekstensif (Creswell, 2007). Bounded (tertutup) bermakna bahwa kasus itu terpisah (berdiri sendiri) untuk diteliti dalam hal waktu, tempat, atau batas-batas fisik tertentu.
Penting kiranya diingat bahwa tipe-tipe kasus yang sering diteliti oleh para peneliti kualitatif adalah:
v  “Kasusnya” bisa jadi seseorang individu, beberapa orang individu secara terpisah atau dalam sebuah kelompok;
v  “Kasusnya” boleh jadi merupakan repsentasi sebuah proses yang terdiri dari serentetan langkah (seperti proses pengembangan kurikulum perguruan tinggi) yang terdiri dari serentetan aktivitas;
v  Seperti diperlihatkan pada Diagram 15.1, sebuah kasus boleh jadi dipilih untuk diteliti karena kasus tersebut luar biasa dan memiliki manfaat di dalam dan untuk dirinya sendiri. Apabila kasus itu sendiri diminati, kasus tersebut disebut intrinsic case (kasus intrinsik). Penelitian tentang sekolah bilingual (dwibahasa) mengilustrasikan bentuk studi kasus seperti ini (Stake, 2000). Alternatif lain adalah fokusnya diberikan pada isu spesifik, dengan sebuah atau lebih kasus yang digunakan untuk mengilustrasikan sebuah isu. Tipe kasus seperti ini disebut instrumental case (kasus instrumental), karena kasus tersebut diarahkan untuk memenuhi tujuan untuk mengiluminasikan isu tertentu. Studi kasus “gunman incident  (Asmussen & Creswell, 1995) menggambarkan sebuah kasus instrumental dari sebuah kampus dalam rangka memperlihatkan reaksi kampus terhadap tindakan kekerasan di kampus. Studi-studi kasus boleh jadi juga mencakup kasus-kasus jamak, yang disebut collective  case studies (Stake, 1995), di mana kasus-kasus jamak dideskripsikan dan dibandingkan dalam rangka memberikan pemahaman terhadap sesuatu isu. Seorang peneliti studi kasus boleh jadi meneliti beberapa sekolah guna mengilustrasikan pendekatan-pendekatan alternatif terhadap pilihan sekolah bagi para siswa.
v  Para peneliti berupaya mengembangkan sebuah pemahaman mendalam tentang kasus dengan jalan mengumpulkan bermacam ragam bentuk data (seperti gambar, klipingan, videotape, dan e-mail). Memberikan pemahaman yang  mendalam memerlukan hanya beberapa kasus saja yang diteliti, karena untuk setiap kasus yang diteliti, si peneliti akan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menelusuri secara mendalam setiap kasus tersebut.
v  Si peneliti juga menempatkan “kasus” atau “kasus-kasus” itu di dalam konteks yang lebih luas, seperti seting-seting geografis, politik, sosial, atau ekonomi (seperti konstelasi keluarga yang terdiri dari kakek nenek, saudara kandung, dan anggota-anggota keluarga yang “diadopsi”).
Sebuah contoh dari studi kasus adalah penelitian oleh Kos (1991) tentang empat orang siswa sekolah menengah yang memiliki ketidakmampuan membaca. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kesulitan membaca pada para remaja. Peneliti memberikan tutorial kepada keempat siswa tersebut, mengamati kegiatan membacanya sendiri dan kegiatan membacanya di kelas, melakukan wawancara, dan mengumpulkan catatan-catatan sekolah untuk masing-masing siswa dimaksud. Keempat anak tersebut, yang umurnya berada antara 13 dan 15 tahun, tidak bisa membaca bahan-bahan bacaan lebih tiggi dari bahan-bahan bacaan untuk anak-anak kelas 3. Setelah mendeskripsikan masing-masing anak, peneliti mengidentifikasi empat tema yang mencuat tentang maing-masing anak tersebut: tingkah lau membaca, pengalaman-pengalaman negatif dan mengesalkan (frustrated), rasa khawatir (anxiety) terhadap bacaan, dan riwayat membacanya di taman kanak-kanak dan kelas satu. Dari analisis tentang kasus-kasus individual ini, peneliti kemudian membandingkan keempat anak tersebut dan menemukan bahwa keempat siswa tersebut menyadari kelemahan-kelemahan (kekurangan-kekurangan) mereka, memperlihatkan koneksi antara ketidakmampuan membaca dan stress (tekanan), dan ketidakmampuan mengintegrasikan berbagai ragam strategi membaca.
Studi kasus ini memperlihatan sebuah penelitian berkenaan dengan empat buah bounded system (sistem terpisah) – individu-individunya spesifik—dan penilaian terhadap pola-pola tingah laku masing-masing individu dan keempat mereka. Si peneliti memfokuskan diri pada isu tentang ketidakmampuan membaca dan melakukan pengkajian mendalam tentang keempat kasus ini dalam rangka mengilustrasikan isu tentang ketidakmampuan membaca ini. Berbagai bentuk data dikumpulkan, dan analisisnya terdiri dari pengembangan deskripsi dan tema-tema.
Contoh lain adalah studi kasus oleh Padula dan Miller (1999) tentang empat orang wanita yang kembali kuliah sebagai mahasiswa program doktor. Dalam studi kasus ini, para peneliti mengajukan pertanyaan tentang keputusan mereka untuk kembali ke bangku kuliah, bagaimana mereka mendeskripsikan pengalama-pengalaman mereka berkuliah, dan bagaimana pengalaman-pengalaman mereka selama mengikuti program pasca sarjana tersebut mengubah kehidupan mereka. Melalui wawancara dan observasi terhadap para wanita ini, para peneliti menemukan beberapa tema yang mencuat tentang keyakinan-keyakinan yang mereka pegang. Contoh, para wanita tersebut meyakini bahwa pengalaman-pengalaman di pasca sarjana tidak akan memenuhi kebutuhan mereka, mereka membandingkan diri mereka sendiri dengan mahasiswa-mahasiswa yang masih muda belia, dan mereka merasakan adanya kebutuhan umum untuk menyelesaikan perkuliahan mereka secepat mungkin.

Etnografi Kritis
Ketika Denzin (1997) berbicara tentang krisis kembar antara reprsentasi dan legitimasi, ia sebenarnya memberikan respon terhadap perubahan yang menyolok di dalam masyarakat, seperti masyarakat menjadi lebih multi-nasional, bergabung dengan perekonomian dunia, dan mengubah aspek-aspek demografis menjadi kelompok-kelompok yang lebih multi ras. Faktor-faktor ini telah mnciptakan sistem kekuasaan, prestise, keistimewaan, dan otoritas yang berperan memarjinalkan individu-individu dari berbagai kelas, ras, dan jender dalam masyarakat. Dengan berakar pada pemikiran Jerman tahun 1920-an, masalah historis yang ditimbulkan oleh dominasi, elienasi, dan perjuangan sosial sekarang memainkan peranan dalam penelitian pendidikan dan dan ilmu-ilmu sosial.
Bibliografi sekarang memadukan pendekatan “kritis” (Carspecken, 1995; Carspecken & Apple, 1992; Thomas, 1993) untuk menampung perspektif advokasi di dalam etnografi. Critical ethnographies (etnografi kritis) adalah sejenis penelitian etnografis di mana para peneliti tertarik pada pemberian advokasi dalam rangka emansipasi kelompok-kelompok yang terminalkan di dalam masyarakat (Thomas, 1993). Para peneliti kritis biasanya adalah individu-individu yang berpikiran politis yang mencoba mencari, melalui penelitian mereka, advokasi terhadap ketidaksederajatan dan dominasi (Carspecken & Apple, 1992). Contoh, para etnografer kritis boleh jadi meneliti sekolah-sekolah yang memberikan keistimewaan-keistimewaan kepada kelompok-kelompok siswa tertentu,  menciptakan situasi-situasi ketidaksederajatan diantara masing-masing anggota dari berbagai kelas sosial, dan memperbesar “suara” cowok dan para cewek menjadi partisipan yang bisu di daam kelas.
Komponen utama etonografi kritis disarikan dalam Diagram 15.2. Faktor-faktor ini, seperti orientasi bernilai sama (tanpa membedakan), pemberdayaan orang dengan jalan memberikan mereka lebih banyak otoritas, menantang status quo, dan perhatian terhadap kekuasaan dan kontrol, memainkan peranan dalam sebuah etnografi dalam karakterisk proseduralnya, seperti berikut:
v  Peneliti-peneliti etnografi kritis mengkaji isu-isu sosial terkait dengan kekuasaan, pemberdayaan, ketidaksederajatan, ketidakadilan, dominasi, represi (penindasan), hegemoni, dan victimization (membuat orang lain jadi korban);
v  Para peneliti melakukan penelitian etnogafi kritis untuk menjaga agar penelitian mereka itu tdak selanjutnya malah memarjinalkan individu-individu yang sedang diteliti. Dengan demikian, para peneliti berkerjasama, secara aktif berpartisipasi, bernegosiasi dengan para partisipan dalam menuliskan laporan akhir mereka, menggunakan kecermatan dan kehati-hatian dalam memasuki dan meninggalkan situs, dan secara timbal balik melakukan pengecekan terhadap para partisipan.
v   Etnografer kritis harus memiliki kesadaran diri tentag interpretasinya, mengetahui bahwa interpretasi-interpretasinya itu memberikan refleksi kesejarahan dan kebudayaan. Interpretasi hanya bisa tentatif dan mempertanyakan dan menjadi bahan  bagaimana para pembaca dan partisipan akan memandanganya.
v  Para peneliti kritis memposisikan diri mereka, di dalam teks, agar refleksif  dan sadar akan peranan mereka, dan berada di depan dalam menulis laporan penelitian mereka. Ini bermakna mereka harus mengidentifikasi adanya bias dan nilai; mengakui pandangan-pandangan orang lain, dan membedakan antara penyajian tetkstual oleh si peneliti, para partisipan,, dan para pembaca. Seorang etnografer bukan lagi seorang pengamat yang “objektf”, seperti pada pendekatan realis.
v  Posisi yang netral ini juga bermakna bahwa si etnografer akan merupakan advokat bagi perubahan guna membantu menstransformasikan masyarakat sehingga orang-orang menjadi merasa kurang tertekan dan termanijalkan.
v  Pada akhirnya, laporan enografi kritis akan menjadi sebuah pendekatan penelitian yang “messy, multimethod(berantakan; multi metoda), penuh dengan kontradiksi, faktor-faktor yang tidak dapat diperhitungkan, dan penuh ketegangan) (Denzin, 1997).
Penelitian etnografis kritis tentang sebuah sekolah dasar “inklusif”  (Keyes, Haney-Maxwell, & Capper, 1999) mengilustrasikan banyak diantara aspek ini. Tujuannya secara menyeluruh adalah untuk mendeskripsikan dan mendefenisikan peranan kepemimpinan adminsitratif pada sebuah sekolah inklusif dengan para siswa yang banyak mengalami peristiwa disablity classification (kegagalan mengklasifikasi), seperti kognitif, emosional, pembelajaran, berbicara, dana bahasa. Dengan tujuan untuk menghasilkan teori baru yang akan memberdayakan para individu di sekolah, para peneliti memulai dengan sebuah kerangka pemberdayaan kepemimpinan: pemberian dukungan, fasilitasi, dan peluang.
  Didasarkan pada kerja lapangan yang ekstenif yang terdiri dari membuntuti kepala sekolah (Marta), mengobservasi ruang-ruang kelas, melakukan wawancara secara individual dan wawancara kelompok terfokus, dan meganalisis pengumuman-pengumuman mingguan, para peneliti mengkompilasi sebuah gambaran tentang kepemiminan Maria yang mencakup sistem keyakinan sprititual pribadi. Spiritualitas Maria memungkinkannya menilai perjuangan pribadi, mendukung martabat para individu, memadukan masalah pribadi dan masalah profesi, meyakini bahwa bekerja keras, dan memberi penekanan pada pentingnya mendengarkan dan berkhayal. Pada akhirnya, Keyes et al., (1999) memberikan sebuah “visi keadilan yang ditopang oleh “keyakinan-keyakinan” spirtual (halaman 233) dan kmudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan konklusif ”Reformasi sekolah untuk apa?” dan “Pemberdayaan kepemimpinan untuk siapa” (halaman 234).
Sebagai sebuah kajian etnografis tentang sebuah sekolah yang menerapkan perspektif  kritis, proyek kegiatan ini memfokuskan diri pada isu pemberdayaan yang dirasakan oleh para siswa dan para guru yang termarjinalkan di sekolah.  Kepala sekolah secara aktif berupaya mencari partisipasi kolaboratif melalui dialog-dialog bersama dengan para guru dan para siswa. Para peneliti mengadvokasi demi wujudnya sebuah prubahan dan menggarisbawahi ketegangan yang memungkinankan terbukanya pertanyaan-pertanyaan baru ketimbang menutup pembicaraan. Walaupun pandangan para peneliti tidak dibuat secara eksplisit di dalam teks, perhatian dan minat mereka terhadap perubahan dan terhadap visi baru dalam kepemimpian sekolah bagi para individu dengan berbagai kegagagalan/ketidakmpuan seperti dinyatakan terdahlu jelas adanya.

Contoh Lamaran Pekerjaan


Hal: Permohonan kerja
Surabaya , 8 Mei 2018


Kepada , YTH
Bapak/Ibu Kepala Personalia
PT. Kimia Farma
Surabaya

Dengan hormat
Berdasarkan informasi yang saya ketahui atas dibutuhkannya beberapa pegawai, bersama dengan surat permohonan ini saya mengajukan diri sebagai Spg di PT. Kimia Farma. Adapun identitas diri saya sebagai berikut :

Nama                                       :           Aisyah Amelia
Tempat , tanggal lahir             :           Surabaya, 31 Februari 2000
Pendidikan terakhir                 :           SMA Negeri XX  Surabaya
Alamat                                    :           Jl. Rasa sayang No.70, Surabaya
No. Telepon                            :           085456893456        
   
Saya memiliki kemampuan menggunakan ms.word,memiliki motivasi untuk bekerja keras, Dapat berkomunikasi dengan baik,ulet,dan mampu bekerjasama dalam tim maupun personal.
Dan sebagai kelengkapan surat permohonan ini , berikut saya lampirkan syarat-syarat yang dapat digunakan sebagai pertimbangan diri saya :
1.      Pas foto 4 x 6
2.      Fotocopy Kartu Tanda Penduduk
3.      Fotocopy Kartu Keluarga
4.      Fotocopy Sim C
5.      Surat Keterangan Lulus
Besar harapan saya agar Bapak/ibu berkenan memanggil saya untuk wawancara agar saya dapat mendeskripsikan diri saya dan keahlian yang saya miliki lainnya. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih


                                                                                                            Hormat Saya



                                                                                                            Aisyah Ameliaa











                                                DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Yang bertanda tangan dibawah ini saya :
Nama                                       :          Aisyah Ameliaa 
Tempat , tanggal lahir             :           Surabaya, 31 Februari 2000
Alamat                                    :           Jl. Rasa sayang No.70 Surabaya
Umur                                       :           18 Tahun
Agama                                     :           Islam
Tinggi badan                           :           158
Berat badan                             :           48
Status                                      :           Belum Kawin
No. Telepon                            :           085456893456
E-mail                                      :          angyyvgvxfg@gmail.com

Pendidikan Formal
SD Tamat tahun                      :           2012 SDN 
SLTP Tamat tahun                  :           2015 SMPN 1
SLTA Tamat tahun                 :           2018 SMAN xx Surabaya

Kemampuan :
Mengoperasikan Ms.word
Mengoperasikan Internet
Berbahasa Inggris

                                                                                                Surabaya , 8 Mei 2018

                                                                                                            Hormat Saya,
           
                                                                                                            Aisyah Ameliaa